Senin, 13 Januari 2014

Terima Kasih Ibu, Untuk Cintamu Yang Tak Pernah Luruh



Mengenang Kasih sayang ibu...., menghempaskanku pada kenangan kehidupan yang pernah ku lalui bersama beliau.
Ada pahit, manis, getir..., namun semua tetap terasa indah karena bumbu-bumbu cinta yang ibu taburkan didalamnya.

IBU...,
Jika saja dinegeri ini ada penobatan guru kehidupan terbaik, aku rasa ibu’ku berhak menjadi salah-satunya. 

Betapa tidak, banyak kebajikan hidup yang kupelajari dari setiap detik nafasnya, dan dari setiap jejak langkahnya.
Salah satunya adalah pelajaran kedermawanan kepada sesama.


Dalam kesederhanaan’nya (atau bahkan kemiskinan), ibu tetap dermawan kepada sesama. 

Sebagai seorang guru SD dengan gaji yang minim dan harus menafkahi 5 orang anak (karena ayah sudah meninggal sejak aku kecil), tak membuat ibu kehilangan sifat dermawan’nya. 


Sepertinya, di urat nadi beliau telah tergores, untuk selalu berbagi dan berbagi kepada siapapun yang membutuhkan uluran tangan... he he....
Namun, tak jarang karena sifat dermawannya itulah, yang dulu membuatku “membenci” ibu.


Masih jelas teringat kala itu, aku pernah mendiamkan ibu begitu lama, karena aku kecewa ibu lebih memilih membayarkan uang SPP murid-murid’nya yang tak mampu, daripada membelikan mesin ketik yang saat itu sangat kubutuhkan.

Berkali-kali pula aku memprotes sikap ibu, yang selalu begitu mudah memberikan makanan kepada tetangga. Sementara kepada anak-anaknya sendiri (aku dan kakak-kakak’ku), ibu meminta kami berhemat dan hidup penuh kesederhanaan.

Tapi saat itu, ibu tetap tersenyum padaku, meski aku kecewa dan marah padanya. Kasih Sayang Ibu tak pernah luntur.

Ibu tetap menyapaku, menyiapkan sarapan untuk-ku tiap pagi, menyambutku saat kupulang dari sekolah. Yang semua sikapnya itu, mampu membuat rasa kecewa dan marahku luruh.

Kini, seiring waktu yang terus berlalu, aku mampu memahami arti kedermawanan ibu kala itu.
Bukan karena ibu tega membiarkan aku tak memiliki mesin ketik yang sangat kubutuhkan saat itu. Bukan pula karena ibu tega melihat aku dan kakak-kakak’ku kelaparan dan makan dengan nasi yang sangat kurang.

Tapi ibu ingin, agar aku bisa bersyukur, karena masih banyak orang yang hidupnya lebih kekurangan dibanding kehidupan kami saat itu.

Dan kini, aku sangat bersyukur, ibu pernah "memaksaku" hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan hidup kala itu. 

Karena keterbatasan hidup yang pernah kualami dulu, membuat semangatku berkobar untuk berjuang meraih kehidupan yang lebih indah daripada kehidupanku yang dahulu. 

Aah ibu,
Betapa banyak caramu untuk mendidikku menjadi manusia kuat dan tangguh, yang semua cara itu kau bingkai dengan  cintamu yang penuh.

Kini, biarlah aku yang membingkai cintaku untukmu...!!! 
Meski aku tahu, sejuta cinta yang aku punya, tak akan mampu membalas kasih sayangmu (meski) sehari saja, yang dulu pernah kau semai dalam hidupku.

Ibu,
Izinkan aku, menghapus tetes keringat yang pernah kau cucurkan. Tak perlu lagi kau membanting tulang, nikmatilah apa yang telah kudapatkan dengan senang dan tenang. Bercandalah dengan bahagia ibu, bersama cucu-cucumu yang telah kulahirkan. 

Izinkan aku menggenggam tanganmu ibu, untuk menghabiskan waktu bersamamu dengan penuh kedamaian, agar tak ada penyesalan dalam hidupku di hari mendatang.

Dan izinkan aku menghapus luka yang pernah kutorehkan dihatimu, agar ridhamu selalu kudapatkan, agar hidupku penuh ketenangan. 

 Terima kasih ibu, untuk semua pengorbananmu, kasih sayangmu dan segala kecerewetanmu yang selalu kau bingkai dengan cintamu yang tak pernah luruh.


Aku bangga dan bahagia memiliki ibu yang hebat dan tangguh seperti engkau, IBU...!!!!

Ibu, kan selalu ada namamu di setiap do'a yang kupanjatkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar