Mengenang Kasih sayang ibu...., menghempaskanku pada kenangan kehidupan yang
pernah ku lalui bersama beliau.
Ada pahit, manis, getir..., namun semua
tetap terasa indah karena bumbu-bumbu cinta yang ibu taburkan didalamnya.
IBU...,
Jika saja dinegeri ini ada penobatan
guru kehidupan terbaik, aku rasa ibu’ku berhak menjadi salah-satunya.
Betapa
tidak, banyak kebajikan hidup yang kupelajari dari setiap detik nafasnya, dan
dari setiap jejak langkahnya.
Salah satunya adalah pelajaran
kedermawanan kepada sesama.
Dalam kesederhanaan’nya (atau bahkan
kemiskinan), ibu tetap dermawan kepada sesama.
Sebagai seorang guru SD dengan
gaji yang minim dan harus menafkahi 5 orang anak (karena ayah sudah meninggal
sejak aku kecil), tak membuat ibu kehilangan sifat dermawan’nya.
Sepertinya, di urat nadi beliau telah
tergores, untuk selalu berbagi dan berbagi kepada siapapun yang membutuhkan
uluran tangan... he he....
Namun, tak jarang karena sifat
dermawannya itulah, yang dulu membuatku “membenci”
ibu.
Masih jelas teringat kala itu, aku
pernah mendiamkan ibu begitu lama, karena aku kecewa ibu lebih memilih membayarkan
uang SPP murid-murid’nya yang tak mampu, daripada membelikan mesin ketik yang
saat itu sangat kubutuhkan.
Berkali-kali pula aku memprotes sikap
ibu, yang selalu begitu mudah memberikan makanan kepada tetangga. Sementara
kepada anak-anaknya sendiri (aku dan kakak-kakak’ku), ibu meminta kami berhemat
dan hidup penuh kesederhanaan.
Tapi saat itu, ibu tetap tersenyum
padaku, meski aku kecewa dan marah padanya. Kasih Sayang Ibu tak pernah luntur.
Ibu tetap menyapaku, menyiapkan
sarapan untuk-ku tiap pagi, menyambutku saat kupulang dari sekolah. Yang semua
sikapnya itu, mampu membuat rasa kecewa dan marahku luruh.
Kini, seiring waktu yang terus
berlalu, aku mampu memahami arti kedermawanan ibu kala itu.
Bukan karena ibu tega membiarkan aku
tak memiliki mesin ketik yang sangat kubutuhkan saat itu. Bukan pula karena ibu
tega melihat aku dan kakak-kakak’ku kelaparan dan makan dengan nasi yang sangat
kurang.
Tapi ibu ingin, agar aku bisa
bersyukur, karena masih banyak orang yang hidupnya lebih kekurangan dibanding
kehidupan kami saat itu.
Dan kini, aku sangat bersyukur, ibu
pernah "memaksaku" hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan hidup
kala itu.
Karena keterbatasan hidup yang pernah
kualami dulu, membuat semangatku berkobar untuk berjuang meraih kehidupan yang
lebih indah daripada kehidupanku yang dahulu.
Aah ibu,
Betapa banyak caramu untuk mendidikku
menjadi manusia kuat dan tangguh, yang semua cara itu kau bingkai dengan
cintamu yang penuh.
Kini, biarlah aku yang membingkai
cintaku untukmu...!!!
Meski aku tahu, sejuta cinta yang aku punya, tak akan
mampu membalas kasih sayangmu (meski) sehari saja, yang dulu pernah kau semai
dalam hidupku.
Ibu,
Izinkan aku, menghapus tetes keringat
yang pernah kau cucurkan. Tak perlu lagi kau membanting tulang, nikmatilah apa
yang telah kudapatkan dengan senang dan tenang. Bercandalah dengan bahagia ibu,
bersama cucu-cucumu yang telah kulahirkan.
Izinkan aku menggenggam tanganmu ibu,
untuk menghabiskan waktu bersamamu dengan penuh kedamaian, agar tak ada
penyesalan dalam hidupku di hari mendatang.
Dan izinkan aku menghapus luka yang
pernah kutorehkan dihatimu, agar ridhamu selalu kudapatkan, agar hidupku penuh
ketenangan.
Aku bangga dan bahagia memiliki ibu
yang hebat dan tangguh seperti engkau, IBU...!!!!
Ibu, kan selalu ada namamu di setiap
do'a yang kupanjatkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar